.

Selasa, 08 Maret 2016

Budidaya Lele Menggunakan Berbagai Tempat


PEMBUDIDAYAAN ikan lele merupakan kegiatan pemeliharaan dengan tujuan menghasilkan lele yang berukuran berat 8 hingga 12 ekor per kilogram, sehingga bisa dikonsumsi masyarakat luas. Berikut ini adalah penjelasan tentang beberapa tempat pembudidayaan lele yang patut dicoba dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga.
     Tidak usah bingung mencari tempat pembudidayaan lele, sebab pembudidayaan lele tidak memerlukan tempat khusus. Bisa berupa lahan yang belum termanfaatkan di sekitar rumah atau lahan yang sudah dimanfaatkan namun kurang produktif.
     Sempitnya lahan juga bukan faktor penghambat dalam budidaya lele, justru lahan yang sempit berukuran 6 – 30 M2 dengan tinggi 80-100 Cm lebih dianjurkan agar pengelolaan air dan pengawasan semakin mudah. Jika di sekitar Anda memiliki ketersediaan lahan cukup luas, sebaiknya dibuat banyak kolam/tempat pemeliharaan, sehingga pemanenan bisa digilir dan produksi bisa berkelanjutan.
     Setidaknya ada lima jenis tempat atau kolam yang bisa diusahakan dalam budidaya lele. Pertama, Kolam Tanah. Ukurannya diusahakan 20 – 50 M2/kolam, kedalaman 100-150 Cm dan ukuran air dari dasar kolam 30-100 Cm. Antar kolam harus dibatasi pelang atau pematang besar untuk memudahkan pengontrolan. Padat tebar lele berkisar 200-400 ekor/M2
     Setiap kolam sebaiknya dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air yang bisa terbuat dari bambu atau paralon. Pada lubang bambu atau paralon tersebut harus ditutup jarring atau kawat kasa untuk mengantisipasi masuknya hama ke kolam.
    Jenis tanah untuk kolam lele sebaiknya lempung atau tanah liat. Kemudian pada dasar kolam dibuat kemalir atau saluran air dengan lebar 60 Cm untuk mempermudah pemanenan dan sebagai tempat berteduh lele saat siang hari. 
    Kedua, Kolam Semen. Cocok dibangun untuk budidaya lele di lahan sempit. Kedalaman kolam bisa dibuat 100-120 Cm, dengan ketinggian air 30-80 Cm tergantung tingkat pertumbuhan lele dan padat penebarannya.
    Setiap kolam semen harus memiliki pitu masuk dan keluar air, terbuat dari paralon yang disusun sebagai pipa goyang atau siphon. Hal ini bertujuan mempermudah pergantian air dan bisa membersihkan kotoran serta sisa pakan di dasar kolam.
     Dasar kolam dibuat miring ke arah pintu pembuangan, kemudian dibuat kelamir selebar 60 Cm dan dalam 20 Cm dari dari dasar kolam. Padat tebar lele pada kolam semen berkisar 150-200 ekor/M2.
Ketiga, Kolam Terpal. Ini merupakan solusi jika tanah bersifat porous atau kurang dapat menahan air, contohnya tanah berpasir. Berdasarkan letaknya, kolam terpal dibagi dua jenis, yakni kolam terpal di atas tanah dan kolam terpal di bawah tanah.
     Untuk kolam terpal di atas tanah, langkah pertama harus dilakukan adalah perataan tanah kemudian membuat kemalir atau saluran air di tengah kolam untuk memudahkan pengeringan dan tempat berkumpulnya lele saat pemanenan.
     Selanjutnya, tanah dilapisi pasir halus dan disiram agar lebih padat. Ketebalan pasir setelah disiram berkisar 10 Cm. Ini berfungsi agar dasar kolam tidak mudah bocor atau robek saat diinjak. Selain pasir, alas kolam akan lebih baik menggunakan sekam padi karena bisa memberikan kehangatan suhu air kolam saat musim dingin.
     Langkah berikutnya, membuat penyangga dinding di sekeliling kolam terpal. Penyangga bisa berupa anyaman bambu dan papan bekas yang dilengkapi tiang pancang, karung bekas berisi pasir atau bisa juga menggunakan batako yang disusun di sekeliling kolam.
      Untuk kolam terpal di bawah tanah, merupakan kolam yang dilapisi terpal pada dasar dan dindingnya. Kolam seperti ini biasanya memanfaatkan bekas kolam yang sudah ada namun tidak terpakai lagi atau bisa juga membuat kolam baru pada lahan kosong.
     Peletakan terpal di dalam tanah dapat dilakukan dengan cara menutup saluran badan kolam. Terpal cukup diikat pada pasak yang ada di sepanjang tepian kolam. Kelebihan kolam terpal dalam tanah cenderung kuat dan tidak rusak serta suhu air relative stabil.
     Prosedur dalam pembuatan kolam terpal di bawah tanah hampir sama dengan kolam terpal di atas permukaan tanah. Padat tebar ikan lele di kolam terpal bagian atas maupun bawah tanah berkisar antara 100 s.d 150 ekor/m2.
      Keempat, Kolam Drum. Budidaya lele dalam drum sangat cocok untuk mengantisipasi sempitnya lahan. Tapi drum yang digunakan harus bebas dari bahan kimia dan dipastikan tidak bocor. Drum dibuat posisi terbaring, dicuci dan dibersihkan kemudian diberi pupuk organik atau kompos sebagai media tumbuhnya pakan alami untuk benih lele.
      Setelah pupuk organik atau kompos di rendam dalam air selama 5 - 7 hari, benih pun siap untuk ditebar.  Padat tebar ikan lele media drum berkisar antara 40 s.d 50 ekor/M2,. Karena sempitnya media yang digunakan sebaiknya benih ditebar ukuran 7 s.d 8 cm.
      Kelima, Kolam Waring. Merupakan pembesaran lele di empang besar, danau, rawa atau sungai dengan arus rendah menggunakan waring atau jaring apung. Prinsipnya sama dengan pemeliharaan ikan di kolam pada umumnya. Ukurannya bisa 3x4 m, 3x5 m, 4x6 m dan 4x8 m dan seterusnya sesuai dengan keinginan serta kondisi tempat yang tersedia.
      Kedalaman dari permukaan air berkisar 80 - 100 Cm dan tinggi jaring di atas permukaan air lebih kurang 50 cm. Hal ini untuk mengantisipasi agar ikan lele tidak meloncat ke luar.
       Kelebihan menggunakan jaring apung adalah mudah dalam penyortiran dan pemanenan, sisa pakan tidak mengalami pembusukan di dasar waring, mudah dalam pengontrolan, adanya menfaat ganda karena di bawah maupun di luar jaring apung masih bisa dibudidayakan ikan lain misalnya ikan gurami dimana ikan tersebut mendapat makanan dari sisa pakan lele. Padat tebar ikan lele di waring berkisar antara 150-300 ekor/M2. [Rio]

0 komentar:

Posting Komentar